Alunan angin sore melambungkan imaji saya melalui lamunan. Terlihat jauh di langit Yogyakarta, terbang tinggi sebuah layang-layang yang dimainkan teratur oleh seseorang, entah siapa. Tenang dan tanpa beban, layang-layang itu bergerak mengikuti angin hingga, tanpa sadar, ia terlalu tinggi dan terlalu sulit untuk dilihat. Secara tiba-tiba, layangan itu bergerak dengan liar tanpa kendali. Ya, ia terputus dari benang kendalinya... jauh terbang, entah kemana.
Saya tau, jauh di seberang sana, seseorang merasa sedih dengan kepergian layang-layang itu. Rasa sedih dan akan kehilangan sesuatu yang seharusnya dapat ia kendalikan. Rasa sesal akan sesuatu yang ingin ia terbangkan setinggi mungkin, tapi ketika sesuatu tersebut telah terbang tinggi, tidak lagi dapat dikuasainya. Namun, bukanlah rasa sedih dan sesal yang berlangsung lama karena ia bisa menggantinya dengan yang lain.
Lalu, bagaimana dengan layang-layang tersebut? Ia terbang semakin tinggi tanpa arah. Mungkin karena ingin, atau karena pasrah merelakan raganya dihembuskan oleh angin. Ia tau, suatu saat ia pasti akan jatuh entah dimana, entah akan kembali ke empunya atau akan berakhir di tempat yang tak ia inginkan. Ia tau, percuma melawan angin, karena angin adalah bagian dari dirinya. Ia hanya membiarkan segala sesuatu mengalir begitu saja sebelum jatuh terhempas ke bumi.
Dan saya masih duduk termangu melihat kepergian layang-layang itu sembari bermimpi... Mimpi yang dapat kukendalikan. Mimpi yang tinggi. Mimpi yang saya tau akan terbang bersama angin suatu saat nanti... Bagai sebuah layang-layang putus.